News update

Jumat, 18 Maret 2011

TEKNOLOGI TERBARU, JAM TANGAN BERBASIS ANDROID

Teknologi semakin canggih saja sekarang. Perkembangan notebook ataupun ponsel yang sangat pesat dan tak terkendali kini disusul oleh teknologi lain yang biasanya kita anggap biasa saja. Yaitu jam tangan LiveView yang berbasis SO android. It’s wonderfull makin berkembang aja teknologi. Ini beritanya
Android tidak hanya bisa digunakan pada piranti ponsel, tablet PC, atau gadget lainnya, namun ternyata bisa digunakan untuk jam tangan. Seperti salah satu produk besutan Sony Ericsson, LiveView.
Meski bewujud jam tangan, namun LiveView mempunyai beberapa fungsi dasar sebuah selayaknya ponsel. Mulai dari melakukan dan menerima panggilan, berkirim pesan, hingga belangganan Really Simple Syndication (RSS) melalui aplikasi yang dibenamkan. Bentuknya cukup mungil, hanya memiliki dimensi 35×35x11 mm dengan bobot sekitar 15 gram. Untuk layarnya, Sony Ericsson masing menggunakan OLED berukuran 1,3 ichi yang menampilkan resolusi sebesar 128 X 128 pixel.
Namun uniknya, karena menggunakan Android maka jam tangan ini bisa digunakan untuk mengendalikan ponsel dengan sistem operasi serupa. Misalnya, pengguna dapat mengendalikan pemutar musik, membaca pesan atau RSS, bahkan menggunakan aplikasi Facebook dan Twitter yang ada di ponsel. Belum diketahui kisaran harga yang dibanderol untuk produk ini, namun Sony Ericsson menjanjikan bahwa LiveView bakal tersedia mulai akhir 2010. Wow kita tunggu aja kehadirannya.... Dan kita bayangkan perkembangan teknologi dimasa depan seperti apa ya??????
Android adalah sistem operasi untuk telepon seluler yang berbasis Linux. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang buat menciptakan aplikasi mereka sendiri untuk digunakan oleh bermacam peranti bergerak. Awalnya, Google Inc. membeli Android Inc., pendatang baru yang membuat peranti lunak untuk ponsel. Kemudian untuk mengembangkan Android, dibentuklah Open Handset Alliance, konsorsium dari 34 perusahaan peranti keras, peranti lunak, dan telekomunikasi, termasuk Google, HTC, Intel, Motorola, Qualcomm, T-Mobile, dan Nvidia.
 
 
Pada saat perilisan perdana Android, 5 November 2007, Android bersama Open Handset Alliance menyatakan mendukung pengembangan standar terbuka pada perangkat seluler. Di lain pihak, Google merilis kode–kode Android di bawah lisensi Apache, sebuah lisensi perangkat lunak dan standar terbuka perangkat seluler.
Di dunia ini terdapat dua jenis distributor sistem operasi Android. Pertama yang mendapat dukungan penuh dari Google atau Google Mail Services (GMS) dan kedua adalah yang benar–benar bebas distribusinya tanpa dukungan langsung Google atau dikenal sebagai Open Handset Distribution (OHD).


SEJARAH ANDROID


Kerjasama dengan Android Inc.


Pada Juli 2000, Google bekerjasama dengan Android Inc., perusahaan yang berada di Palo Alto, California Amerika Serikat. Para pendiri Android Inc. bekerja pada Google, di antaranya Andy Rubi, Rich Miner, Nick Sears, dan Chris White. Saat itu banyak yang menganggap fungsi Android Inc. hanyalah sebagai perangkat lunak pada telepon seluler. Sejak saat itu muncul rumor bahwa Google hendak memasuki pasar telepon seluler. Di perusahaan Google, tim yang dipimpin Rubin bertugas mengembangkan program perangkat seluler yang didukung oleh kernel Linux. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa Google sedang bersiap menghadapi persaingan dalam pasar telepon seluler.

2007-2008: Produk awal Android

Sekitar September 2007 sebuah studi melaporkan bahwa Google mengajukan hak paten aplikasi telepon seluler (akhirnya Google mengenalkan Nexus One, salah satu jenis telepon pintar yang menggunakan Android pada sistem operasinya. Telepon seluler ini diproduksi oleh HTC Corporation dan tersedia di pasaran pada 5 Januari 2010).
Pada 9 Desember 2008, diumumkan anggota baru yang bergabung dalam program kerja Android ARM Holdings, Atheros Communications, diproduksi oleh Asustek Computer Inc, Garmin Ltd, Softbank, Sony Ericsson, Toshiba Corp, dan Vodafone Group Plc. Seiring pembentukan Open Handset Alliance, OHA mengumumkan produk perdana mereka, Android, perangkat mobile yang merupakan modifikasi kernel Linux 2.6. Sejak Android dirilis telah dilakukan berbagai pembaruan berupa perbaikan bug dan penambahan fitur baru.
Telepon pertama yang memakai sistem operasi Android adalah HTC Dream, yang dirilis pada 22 Oktober 2008. Pada penghujung tahun 2009 diperkirakan di dunia ini paling sedikit terdapat 18 jenis telepon seluler yang menggunakan Android.

Android versi 1.1

Pada 9 Maret 2009, Google merilis Android versi 1.1. Android versi ini dilengkapi dengan pembaruan estetis pada aplikasi, jam alarm, voice search (pencarian suara), pengiriman pesan dengan Gmail, dan pemberitahuan email.

Android versi 1.5 (Cupcake)

Pada pertengahan Mei 2009, Google kembali merilis telepon seluler dengan menggunakan Android dan SDK (Software Development Kit) dengan versi 1.5 (Cupcake). Terdapat beberapa pembaruan termasuk juga penambahan beberapa fitur dalam seluler versi ini yakni kemampuan merekam dan menonton video dengan modus kamera, mengunggah video ke Youtube dan gambar ke Picasa langsung dari telepon, dukungan Bluetooth A2DP, kemampuan terhubung secara otomatis ke headset Bluetooth, animasi layar, dan keyboard pada layar yang dapat disesuaikan dengan sistem.

Android versi 1.6 (Donut)

Donut (versi 1.6) dirilis pada September dengan menampilkan proses pencarian yang lebih baik dibanding sebelumnya, penggunaan baterai indikator dan kontrol applet VPN. Fitur lainnya adalah galeri yang memungkinkan pengguna untuk memilih foto yang akan dihapus; kamera, camcorder dan galeri yang dintegrasikan; CDMA / EVDO, 802.1x, VPN, Gestures, dan Text-to-speech engine; kemampuan dial kontak; teknologi text to change speech (tidak tersedia pada semua ponsel; pengadaan resolusi VWGA.

Android versi 2.0/2.1 (Eclair)

Pada 3 Desember 2009 kembali diluncurkan ponsel Android dengan versi 2.0/2.1 (Eclair), perubahan yang dilakukan adalah pengoptimalan hardware, peningkatan Google Maps 3.1.2, perubahan UI dengan browser baru dan dukungan HTML5, daftar kontak yang baru, dukungan flash untuk kamera 3,2 MP, digital Zoom, dan Bluetooth 2.1.
Untuk bergerak cepat dalam persaingan perangkat generasi berikut, Google melakukan investasi dengan mengadakan kompetisi aplikasi mobile terbaik (killer apps - aplikasi unggulan). Kompetisi ini berhadiah $25,000 bagi setiap pengembang aplikasi terpilih. Kompetisi diadakan selama dua tahap yang tiap tahapnya dipilih 50 aplikasi terbaik.
Dengan semakin berkembangnya dan semakin bertambahnya jumlah handset Android, semakin banyak pihak ketiga yang berminat untuk menyalurkan aplikasi mereka kepada sistem operasi Android. Aplikasi terkenal yang diubah ke dalam sistem operasi Android adalah Shazam, Backgrounds, dan WeatherBug. Sistem operasi Android dalam situs Internet juga dianggap penting untuk menciptakan aplikasi Android asli, contohnya oleh MySpace dan Facebook.

Android bagi komunitas sumber terbuka (open source)

Android memiliki berbagai keunggulan sebagai software yang memakai basis kode komputer yang bisa didistribusikan secara terbuka (open source) sehingga pengguna bisa membuat aplikasi baru di dalamnya. Android memiliki aplikasi native Google yang terintegrasi seperti pushmail Gmail, Google Maps, dan Google Calendar.
Para penggemar open source kemudian membangun komunitas yang membangun dan berbagi Android berbasis firmware dengan sejumlah penyesuaian dan fitur-fitur tambahan, seperti FLAC lossless audio dan kemampuan untuk menyimpan download aplikasi pada microSD card. Mereka sering memperbaharui paket-paket firmware dan menggabungkan elemen-elemen fungsi Android yang belum resmi diluncurkan dalam suatu carrier-sanction firmware.
Menurut studi yang dilakukan firma optimasisasi situs Blaze, sifat alami browser Android pada Android 2.3 Gingerbread di Samsung Nexus S 52% lebih cepat memuat halaman web dibanding browser web Safari di iOS 4.3 yang ada pada iPhone 4.
Dari seribu situs yang diuji firma itu, Safari Apple berhasil membuka 16% situs dengan lebih cepat. Namun seperti dikutip techradar, browser Android menang telak dengan kemenangan 84% dari keseluruhan situs itu.
Awalnya, firma itu menyimpulkan, spesifikasi hardware dan fondasi WebKit serupa membuat iPhone dan Android berkinerja serupa. Selain itu, mesin JavaScript yang lebih cepat membuat browser juga lebih cepat, lanjutnya.
“Namun, semua asumsi itu terbukti salah ketika kami benar-benar mengukur skenario itu,” tandasnya.
Blaze menggunakan koneksi Wi-Fi cepat untuk mengujinya. Pada uji coba terungkap, browser Android hanya butuh 2,1 detik untuk memuat halaman web.
Sedangkan Safari di iOS 4.3 butuh 3,25 detik untuk memuat halaman web. Meski begitu, studi ini menemukan, meski ada perbaruan pada mesin JavaScript, browser pada kedua platform tak menunjukkan peningkatan signifikan dibanding pendahulunya